Ahlan Wa Sahlan, Selamat Datang

Kami berbesar hati untuk saling berkongsi Idea, Pengalaman Dakwah dan Tarbiyyah bersama Anda... Moga HALAQAH BORNEO bermanfaat untuk semua!!!

Dakwah Info | Sumber Dakwah dan Tarbiyyah Anda!!!

Cita-cita kami adalah membina Pemuda yang mempunyai Peribadi Muslim yang Syumul, Melahirkan Generasi Al-Quran, Membentuk Rijal Dakwah melalui wasilah Tarbiyyah Islamiyah yang syumul

AQSA SYARIF...Selamatkan Palestin!!!

Ayuh bersama AQSA SYARIF dalam perjuangan membebaskan PALESTIN, Perjuangan PALESTIN tidak akan berhenti selagi Tanah Suci ini belum Merdeka dari gengaman Zionis Laknatullah

Wadah Perjuangan, Ukhuwwah Teras Kegemilangan

Bersama membina Sinergi HIKMATUS SYUYUKH dengan HAMMASATUS SYABAB dalam membentuk Individu Muslim untuk Mencapai Ustaziyatul Alam (UA)

Bagaimana utk menjadi mukhlis?



Ikhlash dalam berdakwah

Bagi aktivis da’wah, kelurusan niat dalam berda’wah menjadi suatu kemestian. Ada kalanya seseorang berda’wah dan berjihad, tetapi dengan motivasi yang rendah seperti agar dilihat keberaniannya oleh orang lain, agar dianggap eksis serta motivasi memamerkan amal dakwah dan jihadnya. Rasulullah SAW ditanya mengenai masalah ini dan beliau menjawab.

مَنْ قاتَلَ لِتَكُون كلِمةُ اللَّهِ هِي الْعُلْيَا فهُوَ في سَبِيلِ اللَّهِ ( مُتَّفَقٌ عليه)

Hadits di atas menunjukkan definisi yang sejati tentang jihad di jalan Allah SWT, yaitu segala daya upaya untuk meninggikan kalimat Allah. Karena itu, segala aktivitas yang dilabeli jihad namun tidak memiliki orientasi murni untuk menegakkan kalimat Allah SWT, tidaklah dinamakan jihad fi sabilillah.

Bagi aktivis da’wah khususnya, ada sejumlah rambu-rambu yang selayaknya diperhatikan agar niat lurus dalam da’wahnya selalu terjaga.

Menjauhi kemasyhuran

Berbagai akhlaq salafush shalih mengajarkan bahwa mereka sangat takut dengan puji-pujian, kemasyhuran dan popularitas. Bagi mereka, cukuplah Allah SWT sebagai Dzat yang memuji. Mereka berpandangan, pujian dari manusia dapat melengahkan dan melenakan diri sehingga amal perbuatan tidak lagi ikhlash karena Allah.

Ibn Muhairiz berkata kepada orang yang meminta nasihat kepadanya,

“Jika bisa, hendaklah engkau mengenal tetapi tidak dikenal, berjalanlah sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah dan jangan ditanya. Lakukanlah hal ini.”

Bisyr al-Hafi berkata,

“Saya tidak mengenal orang yang suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina. Tidak akan merasakan manisnya kehidupan akhirat, orang yang suka terkenal di tengah manusia”.

Fudhail bin Iyadh berkata,

”Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tidak dikenal? Apa sukarnya engkau tidak disanjung-sanjung? Tidak mengapa engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah.”

Imam Ahmad berkata:

“Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran".

Bagi aktivis da’wah, popularitas dan pujian dari manusia dapat merubah orientasi da’wah seseorang. Dari da’wah karena Allah, menjadi da’wah untuk mencari popularitas. Dari da’wah untuk mendapatkan pujian Allah, menjadi da’wah untuk mendapatkan pujian manusia.

Sebenarnya, popularitas dan kemasyhuran itu tidaklah jelek. Para Nabi, Khulafa ar-Rasyidin dan para Imam adalah orang yang dikenal manusia. Ungkapan salafush shalih tersebut bukanlah ajakan untuk ber’uzlah. Tetapi yang tercela adalah mencari kemasyhuran dan kedudukan, serta sangat bercita-cita untuk mendapatkannya.

Beramal secara diam-diam

Amal yang dilakukan diam-diam berpeluang lebih selamat dari riya’ dibandingkan dengan amal secara terbuka. Allah SWT berfirman

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Para ulama menjelaskan tentang keutamaan menyembunyikan amal kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.

Secara khusus ada keuntungan bagi orang-orang yang “hidden”. Dalam hadits Mu’adz, Rasulullah SAW bersabda

إن الله يحب الأبرار الأتقياء الأخفياء، الذين إن غابوا لم يفتقدوا، وإن حضروا لم يعرفوا، قلوبهم مصابيح الهدى، يخرجون من كل غبراء مظلمة

“Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan yang menyembunyikan amalnya. Yaitu orang-orang yang jika tidak hadir mereka tidak dicari, dan jika hadir mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap.”

Selalu sabar dalam berda’wah

Allah SWT memberikan ilustrasi berupa kisah Nabi Nuh AS yang begitu sabar berda’wah selama 950 tahun (Al Ankabut 14). Nabi Nuh selalu berda’wah siang dan malam tanpa kenal lelah (Nuh 5). Beliau juga menggunakan berbagai metode, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan (Nuh 8-9). Bahkan keluarganyapun juga tidak menyambut ajaran beliau. Kesabaran beliau ditunjukkan ketika mendapatkan wahyu Allah SWT untuk membuat kapal (Al Mu’minuun 27-28) dimana orang-orang kafir mengejek Nabi Nuh dan para pengikut beliau (Hud 11).

Kesabaran dalam berda’wah berbanding lurus dengan keikhlasan. Orang-orang yang ikhlash selalu bersabar dalam menghadapi ujian dalam da’wah. Namun, terkadang ada orang-orang yang ingin segera cepat-cepat menikmati hasil da’wahnya. Perilaku yang disebut isti’jal, dilakukan oleh orang-orang yang mengubah tujuan da’wahnya, dari da’wah murni kepada Allah SWT menjadi da’wah yang berorientasi kepada hasil. Ketika sahabat Khubaib bin al-Arat menanyakan kapan datangnya pertolongan Allah, Rasulullah SAW menjawabnya dengan ilustrasi kisah orang pada zaman terdahulu yang tetap bersabar walaupun harus menerima ujian disisir dari sisir besi. Di akhir, Rasulullah mengatakan (ولكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ) “Akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR Bukhari)

Berbuat yang ikhlash dan wajar ketika memimpin

Orang yang ikhlash karena Allah akan berbuat yang wajar, baik ketika memimpin di depan sebagai qiyadah maupun ketika berada di belakang sebagai jundiyah. Tidak ada perubahan dalam orientasi amalnya maupun sikap dan perbuatannya, baik ketika dikenal orang banyak, maupun ketika tidak dikenal. Dalam hal ini, sikap Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dapat menjadi teladan, ketika beliau tetap ikhlash berjuang meskipun diberhentikan dari panglima perang oleh khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Syaikh Yusuf Qaradhawy memberikan taushiyah mengenai (الفرح بكل كفاية تبرز ) dalam hubungannya dengan persoalan jama’ah. Beliau menyatakan, qiyadah yang ikhlash akan senang jika banyak orang-orang baik yang bergabung dengan jama’ah. Dia tidak akan terganggu atau dengki atau gelisah karena kehadirannya. Bahkan qiyadah yang ikhlash melihat, jika ada orang lain yang lebih baik dari dirinya dalam hal memikul tanggung jawab, ia dengan senang hati untuk mundur dan memberikan tanggung jawab kepada orang lain.

Beliau mengkritik orang-orang yang diberikan amanah namun selalu berusaha mempertahankan jabatannya, tidak mau mundur dan suka menekan orang lain. Padahal seiring dengan perjalanan waktu, keadaan akan berubah dan orang yang kuat akan menjadi lemah. Ada ungkapan (لكل زمان رجاله) , setiap zaman ada rijalnya. Beliau mengkritik pemimpin yang yang mati-matian mempertahankan kedudukannya dengan anggapan dialah yang paling mampu mengendalikan perahunya.

Syaikh Yusuf Qaradhawy juga menyatakan, aktivis dakwah tidak boleh menutup mata dan telinga ketika mendapatkan kritik dari orang lain. Beliau bahkan memperingatkan bahaya sebuah jamaah yang disusupi dari luar, kepincangan dalam berfikir dan beramal, tidak ada inovasi dan pembaharuan, sebagai akibat kerakusan satu atau dua orang yang terlibat di dalamnya.

Menghindari ujub.

Ujub (i'jab bin nafsi) adalah penyakit membanggakan diri sendiri, dengan tidak merendahkan orang lain. Walaupun tidak merendahkan orang lain, penyakit ini cukup berbahaya, karena berpotensi menuju ghurur. Ghurur adalah penyakit membanggakan diri sendiri disertai dengan merendahkan orang lain. Karena itu ghurur dikatakan sebagai syiddatul i'jab. Di atas ghurur adalah penyakit takabbur alias sombong. Takabbur dikatakan syiddatu syiddatil i'jab. Jadi pada akhirnya, ujub berbahaya karena menuju kepada takabbur. Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Aafatun ‘ala ath-thariq menjelaskan tentang bahaya penyakit ujub, ghurur dan takabbur.

Perang Hunain memberikan pelajaran besar akan bahaya penyakit ujub, ketika kaum muslimin merasa yakin akan mendapatkan kemenangan karena membanggakan jumlah yang besar. Allah SWT berfirman


لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah 25)

Lafazh (أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ) menunjukkan bahwa kaum muslimin berbangga dengan jumlah yang besar, pada akibatnya mereka bercera-berai.

Penyakit ujub juga dapat muncul ketika seseorang atau sebuah jama’ah merasa dirinya lebih baik atau lebih suci daripada orang atau jama’ah lain. Padahal Allah SWT berfirman

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm 32)

Selayaknya, aktivis da’wah seperti halnya orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang gemar membersihkan diri (at Taubah 108). Sebab aktivis da’wah bukanlah orang yang bersih dari dosa. Taubat dan muhasabah adalah alat untuk mengevaluasi diri dan jamaah, sejauh mana kelurusan niat dan langkah dakwahnya.





Sekian,
Daripada Ababeel
23 Syawwal 1430H/ 12 Oktober 2009

Alunan Nur Kasih

Dengan namaMu yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani



Kemurahan dan kasih sayang Allah meletakkan kita sebagai salah seorang individu sebagai khalifah Allah. Ini adalah Nukilan zaujah (isteri )ana pula... Subhanallah...
Aku sangat mencintaimu Isteriku... Kerana Allah menghadirkan dirimu buat ku yang selalu Alpa...

Alunan Nur kasih

Ku mohon ar-rahman dan ar-raheem dr mu allah, pada diriku...
sangat ku mencintai suami ku...
tapi tidak pandai aku melantun rasa, bersikap manja, melafazkan kalimah berkat, apatah lagi nyanyian cinta...
sekadar doa ku ketika di hadapan kaabah mu satu ketika dulu..menjadi imam buatku selamanya kerana tidak ramai yang sanggup menikahiku dengan usiaku yang jauh dari usia muda mu...
apatah lagi melayani karenahku, terhadnya masaku ...pengorbanan...kasih sayangnya menyebabkan hati ku selalu merinduinya...walaupun tidak dapat kunyatakan padanya..

Moga Allah memberi balasan yang terbaik buat suamiku...
kesudianmu menjadi teman rapatku,
selalu menukar marahku pada senyuman mahalku,
menjadikan diri sedih menjadi bahagia,
mengetuk pintu malas pada rajin berusaha,

mengurut fizikal kurusku ketika lelah selalu mendatang
menenangkan nafasku...bila
tak keruan
moga ku lebih kuat bekerja untukMu,

menemani ku setiap kerja rumahku..
memasak bersama...menyapu bersama...mengemas bersama...berkebun bersama...mencari 'benih' pewaris agama bersama
di setiap kesusahan dan kesenangan kau berusaha untuk bersama denganku

ooh...walaupun baru sekarang bertemu ramainyer lelaki

kau tetap yang teristimewa bagi ku..
runtuhkanlah ya allah penghambat kasihku pada suamiku..sangat-sangatku bermohon padaMU..

Nukilan Aishah Arsad
Jumaat, 9 oktober 2009
20 Syawal 1430

buat Suami teristemewa
Mohd Azrin bin Mohd Said




Sekian,
dipost oleh:
Akhi Al-Fateh

Mengharap Nur Kasih

Dengan namaMu yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani



Kemurahan dan kasih sayang Allah meletakkan kita sebagai salah seorang individu sebagai khalifah Allah. Nukilan zauj (suami )ana...

Cahaya kasih suami dan isteri
Carilah dalam benak hati
ikhlaskan hati menentukan nya
jgn paksa ia menentukan
andai jiwa masih tak keruan
carilah illahi tanyakan jawapan
baru hati yakin dan ikhlas

kerana tuhan telah menentukan
Redhakan jiwa dengan ketentuan
andai kita Hamba Tuhan

tapi jangan lupakan usaha
kerana tuhan suka pada manusia yang sering berusaha
tiada erti putus asa dlm kehidupan
cuma ada lelah sahaja
jadi Cinta boleh dibina
andai jiwa yakin padaNYa

teruskan Cinta jika ada rasa Sayang dijiwa
Baru bercambah Kasih dan mesra
kerana Nurkasih bukan direka
ia datang dari Jiwa yang Luhur
Nurkasih Suami dan Isteri adalah RahmatNYa
yang akan membawa Mawaddah dalam Rumahtangga

Yakinlah isteriku...
Nurkasih kita pasti terbina
andai kita percayakan Tuhan
akan kuasa Cinta Manusia
yang bercinta kerana sang Pencipta..
Nurkasih..hanya pada yang ikhlas
pada yang mencari redha tuhannya
Nurkasihku....
NURKASIHKU DIJIWA...

Nukilan Mohd Azrin bin Mohd Said
Jumaat, 9 oktober 2009
20 Syawal 1430

buat isteri tercinta
Aishah Arsad





Sekian,
dipost oleh:
Ukti Ababeel

Jalan Dakwah...



Salam Pengungjung Halaqah Borneo..

Alhamdulillah harini ana rasa tenag sikit selepas dengar lagu yang syahdu ni.. Lagu jalan Dakwah ni sangat menyentuh hati ana. Walaupun sebelum ni ana rasa sangat sedih, tapi kini ana dah rasa sedih happy... Lagu ni banyak maksud yang tersirat.. ia juga berkaitan dengan kehidupan ana sebagi ikhwah penerus dakwah...

Akhi.. walau apapun berlaku pada kita.. yang penting kita kena teruskan dakwah kita.. banyakkan berdoa kepada Allah agar dapat terbinanya satu ummah...



Lagu ni akhi, ianya akan menyedarkan kita tentang kehidupan kita sebagai hamba Allah yang mengukir jalan kehidupannya dengan DAKWAH.. maka pastinya dalam jalan itu ada Onak dan duri, ranjau dan cabaran serta ada juga keindahan dan kemanisan ukhuwah yang akan menjadi Memoar kita semua...

Jadi akhi, mari dengarkan lagu ini dan hayatilah ye.... cuma dalam youtube tu gambar ikhwahlah, tapi ana tak tahulah ikhwah mana, tapi insya Allah ikhwah di luar negara kot!!...Brotherhood's Day tajuknya... Apa-apa pun jon dengarkan lagu ni yang sangat bermakna bagi ana dan semua pengungjung HALAQAH BORNEO...



JALAN DAKWAH oleh ALARM ME
Lagu boleh dengar disini: Jalan Dakwah – Alarm me

Dari barisan usrah
Dan dari umbi tarbiyyah
Muncullah sinaran fikrah
Islah terus meniti masa

Dari dewan selesa ke jalanan yang berhaba
Pejuang keadilan dan penjulang kebenaran
Bersama Islam membina ummah
Usaha daulatkan syariah
Agar hidup penuh barakah

Di dalam sedih dan ketawa
Di dalam susah dan mewah
Tetap teguh iman dan takwa

Sehati sejiwa
Dulu kini selamanya
Walau apa yg melanda hadapi bersama

Ya Allah ya Rabbi
Teguhkan iman kami
Moga tabah hati tak berbelah bagi

Berbekalkan Islam membina masyarakat
Mengukuh umat insan sejagat
Setiap mehnah pastinya ada hikmah
Berbaik sangka pada yang Esa

Rasulullah contoh ikutan
Prinsip syura jadikan amalan
Korban masa tenaga kita
Dan fikiran perkasakan maruah kita





Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh
18 Syawal 1430H/ 7 Oktober 2009

Sesuatu yang sangat MENYEDIHKAN ana :-(



Salam Pengungjung Halaqah Borneo...

Harini ana sangat sedih sebenarnya... sedih apa? adalah, tetapi ia sangat besar dalam hidup ana... dan ia amat mengubah misi dan visi ana juga..

apa dia!!!

mungkin belum sesuai dikatakan sekarang... akan tiba masanya... ana akan maklumkan.. tapi bukan dalam blog ini....





Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh
16 Syawal 1430H/ 5 Oktober 2009

Kursus SCORE di FK UNIMAS




Salam pengungjung Halaqah Borneo...

Alhamdulullah harini ana berkursus di Fakulti Kejuruteraan UNIMAS. Kursus Milling dan Lathing untuk (Sarawak Corridor of Renewable Energy- SCORE).. Jadi nasib baik ada kawan baru yang teman ana. Kawan baru ana pun tutor di FK juga, namanya Hisham Afifi..

Jadi for the first day... Alhamdulillah, banyak Teori dan habis pun awal skit...

Ada yang menarik!!!

Then dalam masa sedang berkursus ni, dapat satu lagi pengalam baru... Pengalam jaga exam.. Pn Mahshuri telefon ana utk tolong dia jaga exam Material Engineering 1 utk first year di TMM, Pn Mahshuri meminta ana utk jaga exam sebab dia nak tengok Pn Linda juga lecterur FK di hospital. Dengarnya pn Linda dapat anak kembar 3, subhanallah...

Sambung balik pasal jaga exam.... jadi ana dan hisham pun pilah jaga. start jam 12-2pm... masa tengah jag ni teringatlah masa zaman ana first year dulu jawab exam... sebenarnya soalannya macam sama dengan soalan ana yang pernah dijawab masa ana first year dulu... apa-apa pun dapatlah tengok gelagat adik-adik 1st year mechanical ni menjawab exam.... macam-macam cara yang diusahakan mereka.. hehehe..




Sekian,
Akhi Azryn Al-Fateh
16 Syawal 1430H/ 5 Oktober 2009

6 hari Di Bulan Syawal


Salam pengunjung Halaqah Borneo,

Alhamdulillah harini dah 2 hari ana berpuasa, tinggal 4 hari lagi utk cukupkan puasa 6 hari dibulan Syawal. Insya Allah kali ni ana nak kongsikan sedikit mengenai Puasa Enam...

Silakan Baca ye Semua.....

Puasa sunat enam hari di bulan Syawal

Dua jenis amalan menentukan peribadi seseorang Muslim iaitu amalan wajib dan amalan sunat. Wajib bermaksud sesuatu yang dituntut untuk melakukannya dan berdosa jika ditinggalkan seperti solat fardu, puasa pada Ramadan dan membayar zakat.

Sunat pula bermaksud sesuatu yang dianjurkan untuk melakukannya dan tidaklah berdosa jika ditinggalkan. Antara contoh amalan sunat ialah solat, mengucapkan amin apabila membaca fatihah dalam solat dan banyak lagi.

Walaupun meninggalkan amalan sunat tidaklah menyebabkan berdosa, ia adalah amalan sangat disukai Allah.



Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesungguhnya Allah berfirman yang maksudnya: "Sesiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya aku mengisytiharkan perang terhadapnya. Dan tiada seorang hamba-Ku yang bertaqarrub (beramal) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai hanya dari ia menunaikan semua yang Aku fardukan ke atas dirinya. Dan hendaklah hamba-Ku sentiasa bertaqarrub dirinya kepada-Ku dengan nawafil (ibadat sunat) sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, nescaya adalah Aku sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan sebagai tangannya yang ia bertindak dengannya, dan sebagai kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia meminta kepada-Ku nescaya Aku berikan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku nescaya Aku lindungi." (Hadis riwayat Al-Bukhari)

Antara ibadat sunat yang amat digalakkan selepas puasa wajib Ramadan ialah puasa enam hari semasa Syawal. Persoalannya, bilakah waktu terbaik melakukannya, dan bagaimanakah cara untuk menunaikannya jika puasa wajib belum lagi diganti atau diqada?

Puasa enam hari pada Syawal sebenarnya amat besar ganjaran yang ditawarkan Allah. Ia disebut secara jelas oleh Rasulullah SAW.


Hadis yang diriwayatkan oleh Jabir r.a, Sabda Rasulullah s.a.w :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر .

(رواه أحمد

Maksudnya :

Barang sesiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringi dengan enam hari daripada bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang masa.

Dan ada juga dilaporkan daripada Abu Ayyub al-Ansari bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa berpuasa sepanjang Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa selama satu tahun." (Hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Ini bermakna dengan berpuasa sunat selama enam hari pada Syawal selepas berpuasa wajib pada Ramadan, seolah-olah mereka berpuasa sepanjang tahun.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Allah telah menggandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda. Puasa Ramadan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (Hadis riwayat An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Hadis ini mempamerkan bahawa ganjaran diberikan Allah itu sepuluh kali ganda. Ini bermakna jika kita berpuasa selama 30 hari pada Ramadan, maka digandakan menjadi 300 hari, manakala puasa enam hari pada Syawal digandakan menjadi 60 hari. Ganjaran Allah adalah sebanyak 360 hari.

Persamaan yang lain, jika berpuasa selama sebulan pada Ramadan akan menyamai 10 bulan, kemudian diikuti puasa selama enam hari pada Syawal akan menyamai dua bulan. Justeru genaplah berpuasa selama setahun.

Ada dua pendapat ulama mengenai hal ini. Majoriti ulama berpendapat, puasa enam dilakukan secara berturut-turut selepas Hari Raya. Ia dimulai pada hari raya kedua dan seterusnya sehingga genap enam hari. Sebahagian ulama pula berpendapat puasa enam itu boleh dilakukan secara berselang-seli atau tidak terus menerus sepanjang Syawal.



Justeru, kita mempunyai kebebasan untuk membuat pilihan sama ada melakukannya secara berturut-turut ataupun berselang seli.

Bagaimanakah pula kaedah menunaikan puasa sunat pada Syawal jika puasa Ramadan masih belum diganti atau qada? Persoalan itu juga mempunyai beberapa pandangan. Pendapat pertama mengatakan adalah memadai seseorang yang ingin melakukan puasa qada dan puasa enam dengan berniat hanya puasa qada pada Syawal. Mereka akan mendapat dua ganjaran sekali gus dengan syarat dia perlu berniat puasa qada terlebih dulu. Ini kerana puasa qada adalah wajib dan puasa enam adalah sunat.

Hal yang sama berlaku ke atas solat tahiyatul masjid. Jika seseorang memasuki masjid dan terus melakukan solat fardu, maka dia akan diberi ganjaran dua pahala sekali gus.

Pendapat kedua ialah jika seseorang melakukan kedua-duanya secara berasingan akan mendapat kelebihan di sisi Allah kerana sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah, maka memperbanyakkan amalan taqarrub dengan memisahkan antara yang wajib dengan sunat lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba.

Ada juga ulama berpendapat bahawa puasa enam seharusnya didahulukan kerana ia hanya boleh diamalkan pada bulan Syawal saja. Bagi puasa qada, ia boleh dilakukan dalam tempoh 10 bulan berikutnya sebelum tibanya Ramadan akan datang.

Lakukan ibadat sunat ini sama ada berpuasa secara berturut-turut atau berselang-seli. Begitu juga dengan puasa qada. Lakukanlah sama ada secara digabungkan puasa enam dengan puasa qada ataupun secara berasingan.

Terpulanglah kepada diri kita sendiri berdasarkan kemampuan masing-masing. Hal ini kerana ganjaran ditawarkan Allah amat besar. Ia juga adalah tambahan kepada kekurangan yang diimbangi oleh zakat fitrah.

Sumber daripada: Zahri Hamat; pensyarah Pusat Kajian pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) Universiti Sains Malaysia (USM)




Selamat berpuasa Enam ye....

Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh
11 Syawal 1430H/30 September 2009

MERENUNG NILAI TAQWA PASCA RAMADHAN : LONJAKAN MENINGKATKAN AMAL


Salam Pengunjung Halaqah Borneo

Di Sini ana nak berkongsi sedikit bahan tazkirah utk manfaat bersama. Sebenarnya bahan ni sepatutnya ana taujih atau sampaikan kepada Halaqah ana, tetapi masa tu mood hilang kerana emosi terganggu.. Adalah masalah yang perlu ana perbaiki dan selesaikan agar Ais Batu tidak mencair dan Ais Batu akan terus membeku dan menyejukkan hati dan mata yang memandang... Ais Batu ni ana analogikan sebagai kefahaman dan nilai tarbiyah.... Afwanlah bagi yang tak faham ye..

APA YANG PENTING?

Ana nak kongsikan tentang tazkirah ni... Tazkirah ni pun ana dapat dalam internet juga, cuma ana rasa ia sangat bermanfaat. Jadi ana kongsikan...

MERENUNG NILAI TAQWA PASCA RAMADHAN : LONJAKAN MENINGKATKAN AMAL



Ramadhan yang telah berlalu meninggalkan kita membentuk kita menjadi hamba yang iltizam dengan ibadah fadhiyah seperti solat, puasa, tilawah, iktikaf, zakat dan sebagainya di mana bekalan-bekalan ini kearah meningkatkan nilai taqwa bagi seseorang Muslim untuk terus bekerja melaksanakan tuntutan Allah swt setelah berakhirnya bulan yang mulia ini. Namun hakikatnya apa yang kita saksikan pada hari ini, Ramadhan berlalu tanpa memberi kesan terhadap nilai taqwa kepada diri kita. Musim ketaatan dan ketaqwaan ini seolah-seolah pergi bersama musimnya yang menjenguk kita setahun sekali. Aidilfitri dihiasi dengan makanan yang enak, pakaian yang baru beserta wangi-wangian baru. Penyair arab menyebut :

Laisa al-’iidu man labisa al-jadid Walakin al-’iid man tho’atuhu taziid.
(Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju)


Sebagai Muslim yang faham dan sedar akan hubungan dengan Penciptanya serta menghayati pengertian dan tuntutan Ramadhan akan terus memelihara hubungan ini walaupun Madrasah Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Muslim ini akan meyakini bahawa 11 bulan yang berbaki masih mampu menyemai nilai taqwa dengan amal soleh serta akan terus berusaha menambahnilai amalan solehnya untuk manfaat dirinya dan juga manfaat semua. Marilah kita merenung beberapa nilai untuk kita refleksi diri dan merenung kembali nilai taqwa sebagai usaha untuk meneruskan pecutan amal soleh kita di 11 bulan yang berbaki :


1. Nilai Fastabiqul Khairat (Berlumba-lumba Mengerjakan Kebaikan

Allah swt berfirman :

“Maka berlumba-lumbalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah :148)

“ Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran :133)


Berlumba-lumbalah kamu kepada (mendapatkan) keampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah kurnia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai kurnia yang besar.
(Al-Hadid :21)

Bersegera di dalam merebut dan mengejar kekayaan kebajikan dan amal soleh merupakan salah satu ciri orang yang beriman dan bertaqwa serta faham akan tuntutan Rab terhadap mereka. Jika kita merenung ke belakan, kita mendapati para Nabi Allah dan sahabat Nabi saw berebut-rebut untuk mengerjakan amal soleh pagi dan petang sedangkan mereka telah dijanjikan syurga oleh Allah swt. Lalu renunglah diri kita yang masih belum dijanjikan sebarang berita gembira di akhirat kelak. Maka untuk memperolehi berita gembira ini di akhirat kelak, marilah sama-sama kita terus melaksanakan segala tuntutan yang melayakkan kita untuk menjejakkan kaki di dalam syura Allah swt.

2. Nilai Mujahadah (Kesungguhan)

Bagi seseorang Muslim, melaksanakan amal soleh kepada Rab memerlukan pengorbanan kerana syurga Allah tidak dapat diperolehi dengan semudah-mudahnya. Ia memerlukan kita melalui kesusahan, kepayahan dan pengorbanan untuk merasai nikmat syurga di akhirat kelak. Pengorbanan ini yang disebutkan oleh Saidina Umar al-Khattab ketika menjawab pertanyaan berkaitan Taqwa di mana beliau menggambarkan Taqwa itu seolah-olah kita berusaha dan berhati-hati melalui jalan yang dipenuhi dengan duri.Kesungguhan ini datang dari niat yang ikhlas serta dibuktikan dengan amal yang serius dan bersungguh-sungguh. Allah Ta’ala memuji dan menjanjikan syurga kepada para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekadar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan. Allah berfirman :

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (tidak meminta-minta).” (Adzdzaariyaat : 16-18)

Bagi individu Muslim yang sedar dan faham akan mendapati bahawa ibadah mereka tidak tertumpu kepada ibadah ritual yang bersifat hablumminallah (hubungan dengan Allah) semata-mata namun mereka turut melaksanakan tuntutan yang bersifat hablumminannas (hubungan kemanusiaan). Mereka menjaga kebajikan golongan yang memerlukan seperti golongan fakir miskin, anak yatim, wanita terbiar dan golongan warga emas.Sebagai balasan atas komitmen kesungguhan ini Allah akan membuka jalan kepada mereka seperti firman Allah swt :

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (al-Ankabuut: 69)


3. Nilai Istimroriyah (Berterusan)

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah ditanya: “Apakah amalan yang paling dicintai Allah? Baginda menjawab: “Amalan yang dilaksanakan secara berterusan walaupun sedikit.” (Riwayat Bukhari).

Aisyah Ummul Mukminin menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling konsisten dalam melakukan amalan/ibadah (HR.Muslim). Menjaga nilai istimror merupakan sebahagian daripada tanggungjawab individu Muslim yang sedar dan faham di mana ia menjadi satu ruh yang menjiwai amalan tersebut samada berkualiti atau tidak. Dalam rangka menjaga kesinambungan amalan, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga kadang mengganti (qodho) suatu amalan yang beliau tidak lakukan pada waktunya disebabkan halangan yang mendatang. Maka selepas Madrasah Ramadhan pergi meninggalkan kita, ibadah yang pernah dan mampu kita lakukan di bulan Ramadhan lalu hendaklah dikekalkan agar ibadah ini terus kekal sebagai ibadah walaupun sedikit serta tidak menjadi adat yang akan menghilangkan semangat kita di dalam menjaga hubungan dengan Allah swt.
Nilai Taqwa Ramadhan ini juga dapat diteruskan dengan pelaksanaan Puasa 6 hari di bulan Syawal di mana diriwayatkan daripada Nabi saw bahawa jika seseorang berpuasa Ramadhan lalu disusuli dengan puasa 6 hari Syawal maka pahalanya seolah-oleh berpuasa selama setahun. Penerusan proses berpuasa ini sebenarnya melatih individu agar tidak berhenti secara terus dan mengejut daripada puasa Ramadhan sebaliknya digalakkan secara berperingkat seperti puasa 6 hari di bulan Syawal atau puasa Isnin dan Khamis. Islam menggalakkan agar momentum istimroriyah di dalam bulan Ramadhan ini terus dikekalkan walaupun berakhirnya bulan Ramadhan al-Mubarak.


4. Prinsip Tawazun (Keseimbangan)

Syariat Allah adalah syariat yang dibangun di atas landasan at-taysir wa raf’ul masyaqqah (mudah dan tidak mempersulit). Ia diciptakan untuk manusia yang mempunyai keterbatasan dalam banyak hal. Allah tidak mensyariatkan satu bentuk perintah ataupun larangan kecuali semuanya dalam batasan kesanggupan dan kemampuan manusia itu sendiri. Allah taala berfirman :

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (al-Baqarah : 286).

Memaksimumkan amal soleh bagi individu Muslim tidak bererti kita harus bersikap ekstrim atau melampau di dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan. Ia bermaksud melaksanakan ibadah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuan serta tidak memandang remeh dan memudah-mudahkannya.
Dalam kitab Shahih al-Bukhari diceritakan perihal tiga orang sahabat yang berkunjung ke rumah isteri-isteri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk mengetahui tentang ibadah-ibadah Rasulullah. Ketika disampaikan kepada mereka tentang hakikat ibadah Rasulullah, merekapun tiba pada kesimpulan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah masih sedikit. Dalam kisah tersebut, masing-masing dari ketiga sahabat itupun berjanji. Sahabat yang pertama berjanji untuk melaksanakan qiyamullail sepanjang malam dan tidak tidur. Sahabat kedua benjanji untuk berpuasa sepanjang tahun (setiap hari). Dan sahabat ketiga berjanji untuk tidak berkahwin. Mendengar hal tersebut, Rasulullah pun segera menegur mereka dengan mengatakan bahawa sunnah baginda adalah bersikap seimbang dalam ketiga perkara tadi.
Sikap tawazun dalam beramal dan menjauhi ghuluw (melampau) merupakan di antara yang terpenting dalam memaksimumkan amal soleh. Menjaga kesederhanaan, keseimbangan dan tetap menjaga hak-hak yang lain (hak keluarga, badan dan yang lainnya) inilah yang akan memberikan nafas yang panjang dalam pelaksanaan amalan itu sehingga tidak menyusahkan apatah lagi sampai tahap meninggalkan amalan itu secara total. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

“Bersikap sederhanalah, bersikap seimbanglah pasti kalian akan tiba ke kemunaknya”. (HR. Bukhari).

Kesimpulannya marilah sama-sama meningkatkan komitmen dan iltizam kita dengan mempertahankan nilai-nilai taqwa yang dipraktikkan di bulan Ramadhan lalu agar ucapan takbir, tahmid dan tahlil ke buat Rabbul Jalil merupakan ucapan kemenangan yang bermakna dan berkesan buat diri kita sepanjang menghadapi madrasah ujian yang lalu. Semoga Allah memperkukuhkan langkah kita di dunia ini hingga kita pergi mengadap Allah Rabbul `Izzati di akhirat kelak.



Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh
10 Syawal 1430H/29 Sept '09

Ada apa Dengan 8 Syawal?



Salam semua Pelawat Halaqah Borneo..

SubhanAllah, masa pantas berlalu.. Jadi rasanya ada apa dengan 8 Syawal Ni.. Bagi orang lain mungkin dah habis puasa sunat enam hari, mungkin juga sudah 8 hari beraya... tapi bagi diri ana ia bermakana...

jadi ada apa dengan 8 Syawal???

Baiklah, sebenarnya 8 Syawal amat bermakna buat ana dan juga isteri ana.. tak sangka, sudah ana sudah 2 tahun ana bernikah dengan Isteri ana Aishah Ababeel mengikut bulan Islam atau kalendar hijrah. Dah 2 tahun kami bersama dalam suka dan duka, pahit dan manis dalam mengharungi kehidupan berumahtangga. Lagi-lagi mengharungi kehidupan rumahtangga yang diberi amanah besar untuk memperbaiki Ummah dan melahirkan Generasi Quranic.

Ya Allah apa yang telah aku laksanakan selam dua tahu didalam bahtera pernikahan? adakah masjidku semakin Subur? Moga Allah semakin menambah cintanya kepada Ana dan Isteri.. Amin

Soal Zuriat???

Subhana Allah, maha suci Allah.. Ramai yang bertanya dengan ana, baik dari sisi ikhwah, mungkin juga akhwat disisi isteri ana, malah keluarga juga telah banyak bertanya..

Bila Lagi nak ada Baby?, Azrin bila lagi?

persoalan yang mencuit hati ana dan juga isteri ana.. bukan kami tak nak zuriat, tapi masih belum ada Rezeki dari Allah. Ana sangat yakin dengan Kurniaan dan kuasa Allah... Sebab ana dan isteri selalu berdoa untuk mendapat zuriat yang soleh dan solehah, mujahid wa mujahidah. Allah ajarkan doa dalam Al-Quran diantaranya:

ayat 74, surah Al-Furqan yang bermaksud:Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."


ayat 38, surah Ali-Imran yang bermaksud: “Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku dari sisi-Mu zuriat keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau sentiasa Mendengar (menerima) doa.”


ayat 89, surah al-Anbiya yang bermaksud: “Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan daku seorang diri (dengan tidak meninggalkan zuriat); dan Engkau jua sebaik-baik yang mewarisi.”

Jadi Insya Allah, mudahan Allah memakbulkan doa kami dan memudahkan segala urusan kami untuk mendapatkan zuriat bakal pewaris Agama Allah ini.. Kadang-kadang kita belum dapat zuriat sebab dosa atau maksiat kita, atau juga kadang-kadang sebab kita belum cukup soleh untuk dapat zuriat yang soleh juga. Sebab ibu dan ayah akan mewariskan sifatnya kepada anaknya nanti.. Jadi ana dan isteri insya Allah dalam usaha memperbaiki diri agar jadi yang terbaik utk melahirkan zuriat yang terbaik. Ada hikmah dari dugaan Allah ini...



Alhamdulillah, banyak yang ana belajar sepanjang 2 tahun dari erti perkahwinan dan rumahtangga ni. belajar jadi matang, bertanggungjawab dan mengurus rumahtangga. Belajar jadi suami dan juga memperbaiki diri jadi suami yang soleh. Biasalah suami isteri mesti ada pahit dan manisnye, tapi apa yang penting kita perlu ambil ibrah dalam setiap peristiwa yang berlaku..Jadi barulah rumahtangga bahagia... Bagi yang belum bernikah, cepat2lah ye.. semoga kita kan lebih cepat matang...

Moga Pekahwinan yang dah 2 tahun ini akan bertambah barakah dan di redhai Allah.. Amin..



Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh

Kombinasi Raihan dan Hujan Di Aidilfitri



Suatu kelainan yang cuba dibawa oleh kumpulan nasyid RAIHAN apabila mereka membuat featuring bersama band indie HUJAN. Lirik lagu dicipta oleh Saudara Abu Bakar Md. Yatim (Raihan) dengan Raihan bertindak sebagai penyusun vokal dan harmoni. Susunan muzik pula telah diatur oleh Hujan. Dengan tajuk "Salam Aidilfitri Ayahanda dan Bonda" para pendengar akan digamit oleh nostalgia aidilfitri bersama ayah dan ibu.

Lagu ini mengisahkan tentang keinsafan seorang anak terhadap ayah dan ibunya yang bersusah payah menyediakan persedian di hari raya demi membahagiakan anak-anak mereka. Namun di sebalik kegembiraan anaknya menyambut hari raya dengan baju baru dan sebagainya, kedua ibu bapanya terpaksa berkorban untuk mencari wang dalam menyediakan kelengkapan raya. Setelah dewasa barulah si anak memahami bahawa betapa peritnya ayah dan ibu berkorban demi melihat anak-anak yang tersayang bergembira di hari lebaran. Walau apa pun cara yang dilakukan untuk membalas jasa orang tuanya, ia tidak mampu membayar segala titik peluh yang telah dikeluarkan olah si ibu dan ayah. Hanya doa dan harapan moga Allah sahajalah yang berkuasa membalas segala pengorbanan ibu bapanya.

Lirik: Salam Aidilfitri, Ayahanda dan Bonda

Terkenang di ketika itu
Ku dimanja dan disayangi selalu
Apa saja kemahuan diri
Akan cuba dipenuhi

Walau hidup dalam kesukaran
Kau kan cuba untuk membahagiakan
Demi anak-anak yang tersayang
Kau berdua kan berkorban

Tetapi baru ku sedari
Tidak mungkin kan terbalas budi
Pengorbanan mu tiada ternilai
Hanya tuhan kan membalasnya

Salam Aidilfitri
Ayah bonda yang dicintai
Maafkanlah anakmu ini
Kerna belum cukup berbakti

Pabila menjelang lebaran
Baju baru kan disediakan
Walau mungkin kami tak mengerti
Keperitan saat itu

Namun wajahmu terus bercahaya
Oh sucinya kasih sayang itu
Di bibirmu kan menguntum senyum
Andai anakmu bahagia

Salam Aidilfitri
Ayah bonda yang dicintai
Maafkanlah anakmu ini
Kerna belum cukup berbakti
Di Aidilfitri, di Aidilfitri...





Lagu ini telah dirakamkan di Studio AG, Cheras manakala mixing dikendalikan oleh Greg Anderson dan mastering oleh LC Toh.

Sumber: METAMOBILE & Raihan Nasyeed & Thoyyibah Blog

Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh

Cara Dakwah Yang Baru?

Salam Pelawat Halaqah Borneo...

Banyak betul sekarang artis cenderung ke arah lagu-lagu islamic, Persoalan adakah dakwah semakin melebar?, baru tadi ana baca kat akhbar Berita Harian Online tentang dakwah seorang pemuda untuk anak muda..

ni link dia.. Muhammad Al-Amin


Then RAIHAN DAN HUJAN

kemudian ana pula terlihat satu video di Youtube satu kombinasi Nasyid dan juga band ala indie (Band Hujan).. Adakah dakwah di industri hiburan semakin melaju?

moga begitu hendaknya.. bukan band Hujan je baru nak berama artis nasyid, tapi ana pernah tengok juga Awie dan Raihan, Rabbani dan juga artis biasa yang lain.. dan banyak lagi.. kalau di indonesia dengan Band UNGU, Opick dan lain-lain lagi..



Kumpulan Raihan



Band Hujan



Raihan dan Hujan


SubhanAllah

sekarang pun jika dengar dalam IKIM, Siti Nurhaliza juga dah mula nak ke arah islamic.. ana ada dengar dia bernasyid Asma' ul Husna..

PANDANGAN

apa yang ana nak beritahu, moga dakwah semakin pesat serta laju dikalangan artis nasyid, moga artis nasyid dapat berdakwah dengan lagu dan akhlaknya, hingga artis lain pun tersibghah (terkesan dan tersalut)dengan nilai islami. Kepada artis yang dah mula nak cenderung ke arah dakwah ni( lagu berunsur dakwah), moga ikhlaskan niat dan bersungguh dan istiqamah, kerana mereka (artisni) akan jadi ikutan para golongan muda sekarang...dan sangat besar pengaruhnya...

HARAPAN

Moga Dakwah dan Risalah Allah berkembang ditangan orang2 yang ikhlas, kita tak tahu siapa, tapi kita perlu berusaha menjadi orang yang IKHLAS itu.. agar di berikan nikmat SYURGA kelak.. Amin.


Walallahu'alam.
Sekian,
Akhi Azrin Al-Fateh

Pulang Beraya Ke Johor...



Salam Semua...

Alhamdulillah tahun ni dapat ana dan isteri pulang beraya Di Kota Tinggi Johor. Kampung ana jauh di hujung Kota Tinggi, boleh tengok peta, Hujung muncung peta..



Kalau Tahun lepas ana dan isteri beraya di Sibu,Sarawak... kali ni ada rezeki lebih dapatlah pulang beraya selepas empat tahun ana tidak beraya Aidilfitri di tanah kelahiran ana..

Kenapa 4 tahun?


sebab masa tu ana study kat Unimas, jadi nak balik macam susah skit, sebab pas tu dah exam dan juga cuti selama 2 bln.. jadi tak baliklah...

Apa yang special tahun ni?

Alhamdulillah banyak yang special, pertama dapat cium tangan mak dan ayah memohon ampun, dapat bermohon ampun juga dengan abang dan akak, dapat juga jumpa saudara-mara... semunye dah besar belaka.. sampai ada yang tak kenal...

Tahun ni juga mak ana banyak buat kuih raya, katanya nak sambut anaknya dan menantu...Alhamdulillah, bukan apa sebenarnya, ana sangat bersyukur kerana mak dan ayah ana masih sihat lagi..Satu nikmat Allah yang perlu ana syukuri..

Yang Paling special?

Alhamdulillah ana dapat ana saudara. sorang sebelum konvokesyen, anak akak ana... Namanya: Mohammad Rezqi

Sorang pada 27 Ramadhan (17 September), anak abang ana, sama tarikh lahirnya dengan anak akhi Hafidz,
Namanya: Mohammad Danial Fitri

Alhamdulillah dalam masa 2-3 hari ana disana, dapatlah ana menziarahi rumah abang dan akak ana, serta juga rumah saudara -mara ana. Memang padat juga jadual.. Yang datang kerumah pun ramai juga, tak menang tangan isteri saya membantu mak melayan para tetamu...

Jadi begitulah suasana hari raya ana di kampung... Alhamdulillah semuanye baik.. ana pulang ke Sarwak bersama Isteri ana pada malam 22 September. kami beraya sekejap je di Johor, sebab kami ada tugas masing-masing lagi di Sarawak.. bekerja dan juga menunaikan tanggungjawab yang lebih besar...

nanti ana akan postkan gambar ana saudara ana yang comel2 tu.. 2 yang di semenanjung dan tak lupa juga , ada dua lagi di sibu..

Namanya: Mohammad Aniq Syahmi ( anak adik isteri ana)

Namanya: Mohammad Izra Hakim (anak Abang isteri ana)



Sekian.
Dari Akhi Azrin Al-Fateh

Berlalunya RAMADHAN, Tibanya SYAWAL....

Assalamualaikum...

Dah lama rasanya ana tak menulis di blog Halaqah Borneo ini...
Alhamdulillah, mungkin selepas ini ana akan selalu update blog kerana ada sedikit kelapangan waktu..

Kali ini ana nak nukilkan sedikit tentang berlalunya Ramadhan 1430H dan Tibanya Syawal 1430H..



Selamat tinggal Ramadhan…moga ketemu lagi tahun hadapan. Begitu pantas masa berlalu. Allah masih memanjangkan usia untuk terus menghirup udaraNya. Alhamdulillah, syukur ke hadratNya. Semoga hari-hari yang bakal dilalui diredhai olehNya…

1 Syawal - hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman, hari kembalinya diri kepada fitrah. Mudah-mudahan taqwa benar-benar menjadi milik kita semua. 1 Syawal juga bermakna bagi diri ana. Hari penghijrahan ana dari perkara yang kurang baik kepada yang lebih baik. Penghijrahan imej, pemikiran, kefahaman dan akhlak… penghijrahan ini amat memerlukan kekuatan dalaman, keazaman yang jitu dan keinginan yang kuat. Hakikatnya, perubahan diri ke arah yang lebih baik sukar untuk dilakukan. Semoga diri ini istiqomah dengan perubahan yang dilakukan dengan tarbiyah Ramadhan 1430H akan kekal sehingga ke akhir hayat… Semoga At-Taqwa mampu dimiliki dalan jiwa kita bersama.

Buat semua sahabat dan ikhwah, ana memohon jutaan kemaafan atas segala salah dan silap ana pada kalian. Ana hanyalah insan dhoif yang sentiasa melakukan kesilapan. Lisan kadang-kala tak terjaga, hati kadang-kala salah menduga, akal kadang-kala salah mentafsir dan sikap kadang-kala menyakitkan hati. Maafkan semua kesalahan ana. SaLaM ‘iDuLfiTri 1430H!



Sedikit pantun untuk semua yang pembaca blog Halaqah Borneo,

Ramadhan yang dinanti sudah berlalu,
Tibanya Syawal tanda kemenangan,
Salam Aidilfitri dariku untukmu,
Maaf Zahir dan Batin kuhulurkan tangan.



Salam Satu UMMAH, 1UMMAH....
Daripada,
Al-Fateh wa Ababeel Sekeluarga,
UNIMAS

Konvokesyen UNIMAS Ke-13







Salam Kembali selepas Final Exam Di Unimas



Salam Akhi sekali.. dan juga adik-adik...
ana baru habis final exam kat unimas..hari selasa hari habis..
Alhamdulillah boleh jawab dan tawakal kpd Allah dgn usaha yang telah dicurahkan
Insya Allah lepas ni ana akan kerap menulis blog sebai wadah perjuangan ana...

semoga berjumpal dilain posting..
salam....

Kenangan Valentine Seorang Mujahidah




Dapatkan Mesej Bergambar di Sini
Aku lontarkan pandangan pada buih-buih putih. Buih demi buih. Ku alih pula pada ombak yang beralun, menghempas pantai. Setia, ombak dan pantai, bagai janji yang dipateri. Setiap masa ombak merindui pantai yang setia menanti.

Aku larikan pula bebola mataku pada camar yang berterbangan, sekali-sekala menyambar ikan-ikan kecil di laut, kemudian terbang bebas di angkasa. Ku usir pasir di kaki dengan hujung kasut, halus bersinar bila disinari matahari. Bebola yang bersinar lembut di ufuk timur menyenangkan. Ku berterima kasih pada redup pohon rhu yang menaungiku.

Kadang-kadang daun-daun kering berguguran menimpaku. Disapa pula bayu laut yang lembut, menenangkan. Sungguh, alam ciptaan Allah yang amat indah. Saling melengkapi. Pantai ini tidak pernah berubah, masih tetap cantik. Tidak teracun dengan pembangunan yang menggila, tetap setia menerima pengunjung.

5 tahun lalu, pantai ini sama seperti ini, yang bezanya peristiwa. Bezanya sejarah yang tak dapat diubah. Pantai ini pantai yang bernastolgia. Pantai ini berserakan dengan memori yang tak pernah aku cuba cantum. Biarlah ia begitu. Biarlah aku menikmati, mengutip memori demi memori, kemudian aku ketawa dan menangis. Pantai ini pantai yang bermakna. Pantai inilah yang merubah detik-detik sejarah hidupku. Memori yang tak akan ku padam sampai bila-bila. Biarlah ia sentiasa segar, sentiasa mekar. Sama seperti hari ini, di atas bongkah batu besar di bawah pohon rhu yang teduh, 5 tahun lalu, aku duduk di sini.

Sejak pagi lagi aku sudah berada di sini. Aku tunggang VR 125 sebelum menjamah sarapan pagi, membuatkan dahi mamaku berkerut. Pertanyaan mama ku biarkan tanpa jawapan. Hatiku pecah berderai, bagai kaca dihempas ke batu. Aku dapat rasakan hatiku bagai disiat-siat. Pedih. Sungguh pedih kekecewaan ini. Aku kemudiannya mengheret kakiku tanpa arah tujuan. Menyusuri pantai yang panjang. Aku cuba lontarkan kekecewaan ini ke tepi laut untuk melepaskannya, tapi aku tak mampu.

Masakan kasih yang dibina kukuh sebelum ini boleh ku lupakan begitu sahaja. Bolehkah janji sebelum ini dilupakan begitu sahaja??

Letih mengheret kaki menyusuri pantai, akhirnya aku memilih untuk duduk di atas sebongkah batu besar yang teduh diredupi sepohon rhu tua. Aku masih tidak dapat menerima apa yang sudah berlaku. Aku teresak-esak di atas bongkah batu bagaikan seorang kanak-kanak. Aku tenggelam dengan esakanku. Ajaibnya air mataku bagai tidak kering-kering mengalir membasahi pipiku yang sudah lencun. Aku teresak dan terus teresak sambil kutekupkan kedua tanganku di muka. Aku bagaikan berada di awang-awangan, dalam duniaku yang tersendiri. Aku terus hanyut. Hanyut dalam tangisanku.

“Assalamualaikum” Satu suara lembut memberi salam kedengaran dari sebelah kananku. Aku angkat mukaku. Kelihatan seorang gadis tersenyum memandangku. Aku kira dia tua sedikit daripadaku melihatkan wajahnya yang kelihatan matang. “Waalaikumussalam” Jawabku acuh tak acuh. “Boleh saya duduk?” Gadis itu memohon kebenaran untuk duduk di sebelahku. “Duduklah, lagipun bukan saya punya”. Aku masih acuh tak acuh. Lantas gadis itu duduk di sebelahku. Kemudian dia senyap, pandangannya di lontar jauh ke tengah laut.

Kemudian bibirnya seolah-olah menguntum senyum. Dia seolah-olah menikmati keindahan alam yang indah ini. “Cantikkan?” Gadis itu tiba-tiba bersuara setelah beberapa ketika mendiamkan diri. “Hmm?” Aku kurang jelas dengan soalannya. “Cantikkan alam ini? Ombak itu..” tunjuknya pada ombak yang beralun. “Alunan ombak seolah-olah menggambarkan hidup manusia, ada ketika gembira, ada ketikanya juga akan berduka. Ia sama, kerana keduanya akan terpampan pada pantai yang setia. Begitu juga manusia, duka itu akan ada akhirnya jua”. Aku tersentap. Gadis itu seolah-olah dapat membaca pemikiranku.

“Siapa awak ni?” Aku sangsi dengan kewujudan gadis ini. “Maafkan saya kerana terlupa memperkenalkan diri. Saya Izzah”. Dia tersenyum ikhlas sambil menghulurkan tangan. “Rieyn, Adrina” Tangannya ku sambut ragu-ragu. “Boleh kita sama-sama lalui ujian ini?” Dia tersenyum memandangku menyerlahkan keikhlasannya. Aku merenungnya tanpa kata. Aku tarik panjang nafasku kemudian ku lepas beransur-ansur.

Gadis ini bagaikan mengetahui apa yang bergolak di hatiku. “Luka di hati ini tak sama dengan luka fizikal. Luka fizikal dapat dirawat, tapi luka di hati ini terus begitu”. Ujarku lemah sambil menggigit bibir. Entah bagaimana aku mempercayai Izzah. Naluriku mengatakan dia gadis yang punyai prinsip. “Ujian bukannya untuk kita larikan diri, tetapi ujian adalah tarbiyah dari Allah, untuk kita lalui, kerana di sebalik ujian itu tersimpan sejuta hikmahnya”. Tenang Izzah menuturkan kata.

“Tapi hati ini terlalu kecewa. Hati ini bagai dirobek belati”. Aku menggagahkan diri untuk bersuara. Rasanya terlalu pedih untuk aku luahkan. Air mata kurasakan kembali bergenang. Perasaanku kembali bergelora bagaikan ombak di lautan. “Sebenarnya dah lama Izzah perhatikan Rieyn. Sejak Rieyn datang ke sini lagi. Izzah perhatikan Rieyn berjalan-jalan seorang diri di tepi pantai. Bila puas, Rieyn duduk kat batu ni kan?”. Izzah terangkan dengan jelas. Dan aku mula bercerita kepada Izzah.

Saya kenal Zamri setahun lalu. Dia boleh dikategorikan sebagai lelaki pilihan perempuan. Tinggi dan berwajah tampan. Orangnya juga bijak dalam pelajaran. Saya antara ramai wanita yang cuba mendampingi Zamri. Entah macam mana Zamri memilih saya sebagai temannya. Perhubungan saya dan Zamri mula intim dari hari ke hari. Tidak sah satu hari tanpa ber ‘sms’ dan telefon. Zamri seorang yang pandai mengambil hati. Dia selalu membeli hadiah untuk saya. Dia juga berjanji untuk menjaga saya sebaik mungkin. Kami digelar pasangan paling ideal di sekolah. Paling penting kami saling menyayangi. Pantai ini selalu menjadi saksi janji kami.

Saban minggu pantai ini menyambut kedatangan kami. Bersama kami melihat alunan ombak menghempas pantai lalu menghasilkan buih-buih putih. Juga kami berkejaran riang di gigi air mengutip kulit-kulit siput. Saya merasakan bahagia menyelubungi kami. Kami saling berjanji untuk sehidup semati. “Dalam usia semuda ini?” Izzah menyampuk ceritaku. “Ya, kami saling berjanji sehidup semati. Usia bukanlah penghalang kami. Kami mahu berjanji setia pada hari kekasih. Hari yang semua pasangan kekasih menyambutnya”. Sambungku. “14 Februari? Bukankah hari ini?” Izzah bagaikan tidak sabar. Tapi aku meneruskan ceritaku tanpa mempedulikan soalan Izzah.

14 Februari. Hari Valentine. Kami sudah berjanji untuk menyambutnya di sini. Di pantai yang indah ini. Tapi rupanya betullah kata orang-orang tua, kusangka panas sampai ke petang rupanya hujan di tengah hari. Zamri gagal saya hubungi sejak minggu lepas. Telefon bimbitnya dimatikan. Saya tiada nombor telefon rumahnya. "Biar saya yang telefon awak." Dia selalu berkata begitu apabila saya meminta nombor telefon rumahnya. Dia telefon saya menggunakan telefon bimbitnya. Rumahnya juga tidak diberitahu kepada saya. Nanti tiba masanya saya akan tunjukkan. Dia menuturkan begitu apabila bertanyakan rumahnya. Tapi saya positif, mungkin dia tidak mahu diganggu.

Hingga ke hari inilah dia tidak dapat dihubungi. Dan kerana itulah saya di sini. Aku menamatkan ceritaku pada Izzah. “Saya mengerti perasaan awak. Setiap insan mempunyai fitrah untuk menyayangi dan disayangi”. Izzah berespon segera. “Tapi saya rasakan saya ditipu. Perasaan saya dipermain-mainkan”. Aku meluahkan perasaan yang bersarang di lubuk hati. “Rasulullah juga punyai perasaan menyayangi dan disayangi. Cintanya pada Khadijah, isteri Baginda tiada tolok bandingnya. Khadijahlah yang banyak menemani Baginda melalui ranjau perjuangan. Khadijahlah yang member perangsang kepada Baginda. Kasih sayang Khadijahlah menyelimuti hati Baginda tika keluh kesah”. Izzah pula bercerita.

“Betulkah begitu?” Aku menyoal kehairanan. Tidak pernah cerita ini diperdengarkan kepadaku. “Islam tidak menghalang kasih sayang. Buktinya ditunjukkan melalui Rasulullah s.a.w. Baginda menangis tika Khadijah meninggalkan alam ini. Sehinggakan tahun pemergian Khadijah digelar Tahun Berkabung. Kita boleh berkasih sayang tetapi jangan kita melanggar batas batasan agama kita”. Luncur Izzah menuturkan bicara.

“Islamlah cara hidup yang memenuhi fitrah manusia. Semua kehendak manusia dapat dipenuhi oleh Islam”. Izzah tersenyum memandangku. Hatiku terkesan dengan kata-kata Izzah tadi. Selama ini tiada orang yang berbicara topik ini denganku. Baba dan mama? Baba sibuk dengan politiknya. Lobi sana, lobi sini. Tabur duit sana, tabur duit sini. Wakil rakyat penggal depan sasarannya. Mama pula sibuk dengan persatuan wanitanya. Lawatan sana sini. Setiap hujung minggu ada aktiviti. Tinggallah aku keseorangan di rumah dengan Mak Cik Kiah, pembantu rumahku. Abangku di IPT. Adikku di sekolah berasrama penuh.

“Mahukah Rieyn bersama kami?” Izzah bersuara setelah melihat aku diam sejenak. “Awak buat apa kat sini sebenarnya? Awak datang dengan siapa lagi?” Aku inginkan kepastian. “Saya datang bersama kawan-kawan. Sebenarnya kami ada perkelahan. Kalau Rieyn nak sertai kami bolehlah. Kat hujung sana tu..” ujar Izzah sambil menunjukkan tapak perkhemahannya. “Boleh juga” Cepat aku menyatakan persetujuan. Aku sebenarnya ingin mengenali Izzah dengan lebih rapat. Gadis ini nampaknya punyai banyak keistimewaan.

Lantas aku telefon mama. Maklumkan aku tidak balik rumah malam ini. Mama diam tanpa kata. Bukan kali pertama aku tidur di luar. Lantas aku mengatur langkah-langkah mengikuti Izzah ke perkhemahannya. Alangkah terkejutnya aku, kesemua mereka bertudung labuh. Aku ingatkan Izzah seorang sahaja yang bertudung labuh dan berjubah. Satu fenomena baru bagiku. Sekumpulan gadis berjubah dan bertudung labuh berkelah! Setahu aku golongan seperti ini amat terbatas pergerakan. Jubah dan tudung labuh itu bagai memenjara fizikal dan mental. Namun hari ini anggapanku sebelum ini silap. Tudung labuh bukanlah membataskan aktiviti seharian. Bahkan mereka sangat peramah dan berlemah lembut.

Musyrifah, Husna dan ramai lagi menghulurkan salam ukhwah kepadaku. Aku jadi malu. Aku tidak bertudung! Aku pakai t-shirt! Aku berseluar jeans! Gaya ranggi wanita moden! Namun mereka tidak memandang aku lain dari mereka. Aku dilayan bagaikan seorang puteri. Ombak berderu menghempas pantai mematikan kenanganku.

Itu cerita 5 tahun lalu. Detik-detik yang merubah perjalanan hidupku. Tarikh yang ku ingati bukan kerana Valentine, yang kemudiannya baru aku dapat tahu umat Islam tidak menyambutnya kerana ia merupakan perayaan penganut Kristian untuk mengingati seorang paderi yang giat menyebarkan agama Kristian hingga ke akhir hayat.

Izzah tidak pernah mengerti erti putus putus asa dalam membimbingku ke jalan yang benar. Izzahlah yang mengajarku berjemaah. Mengajarku erti tadhiyyah dalam berjuang. Izzahlah yang mengajarku erti perjuangan. Izzahlah yang mencelikkan mataku terhadap penderitaan umat Islam di Palestin, di Iraq, di Afghanistan, di Kaashmir. Juga di sini.

Aku melalui ujian yang mencabar tetapi inilah ganjaran untuk mereka yang memilih jalan ini. Aku dapat rasakan usiaku sepanjang perjuangan. Aku teringat kata-kata Syed Qutb, pejuang yang syahid di tali gantung. Katanya “orang yang hidup untuk perjuangan tidak akan merasa pendek dengan umurnya, kerana umurnya sepanjang perjuangan yang akan berterusan”.

Hari ini, di pantai ini aku memakai tudung hijau sutera Turki bercorak fauna berserta jubah juga berwarna hijau. Warna kesukaan Rasulullah. Tudung dan jubah ini sebenarnya hadiah dari Izzah sempena persahabatan kami pada saat pertama kali kami bertemu 5 tahun yang lalu. Lambang perjuangan katanya.

Buat Izzah, aku nukilkan kembali seuntai kata yang aku temui semasa menatap sebuah majalah. Mungkin penulisnya mendedikasikan buat kekasihnya, tapi tidak mengapa rasanya aku menukilkan buat sahabat seperjuangan.

Hari ini sekali lagi aku menitiskan air mata di pantai yang indah ini. Air mata kali ini bukanlah air mata yang sia-sia. Air mata buat sahabat seperjuangan yang pergi meninggalkan aku buat selama-lamanya. Izzah pergi menemui Pencipta. Saban tahun aku pasti ke sini. Mengutip memori yang berserakan. Memori yang akan ku pastikan terus segar di hatiku. Izzah, pengorbananmu semulia namamu. Tinggallah aku meneruskan perjuangan...



http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=1392
Thank you a lot
Adapted from azmihisam blog..

Menuju Puncak....

Gunung Santubong Telah ditawan !!! Allahu Akbar!!!


Gunung Santubong Dari Pasir Pandak

REQIY 08

Hamba, Jundiy, Bulan , Matahari,

Tali, Talut harus difahami,
Rehlah ini, Rehlah Qiyadi,
Bukan kembara suka hati,

Awan bagai mengerti,
Segala yang terjadi,
Hujan menitis panas mentari,
semua ini untuk menguji,

Dari Sibu, Kuching, Samarahan,
Pasir Pandak tempat perkumpulan,
Semua ini hanya Kerna Allah,
Yang Maha Esa,

Sings by: Muhannad Thahir group (Azrin, Aizam,Hisyam, Danial,Hanis dan Azuwan)
lyrics by: Hanis, Azuwan


Salam Ukhuwahfillah...
Inilah lagu yang dinyanyikan oleh kumpulan ana dalam rehlah qiyadi semasa mendaki utk menawan Gunung Santubong... Alhamdulillah... Kumpulan kami yang terdiri daripada akhi MAS,akhi AHiS, akhi NIK, akhi NZ, akhi DNL dan akhi HNS.. bersama penganjur dan juga kumpulan Yahya Ayyas, selamat sampai dipuncak gunung Santubong...


Muka Kegembiraan, Berjaya Menawan Gunung Santubong

Kumpulan Yahya Ayyas telah melaungkan azan zohor buat pertama kalinya di puncak Santubong dan kumpulan Muhannad Thahir telah menjadi iman solat zohor.. Allhamdulillhah....
Berjayanya dalam ekspedisi mendaki ini menambahkan lagi semangat kami untuk menawan gunung Kota Kinabalu suatu hari nanti.. dan diharap ikhwah UMS dapat menawan dahulu gunung KK sebelum Ikhwah UNIMAS menawannya....


Kumpulan Yahya Ayyash

Semoga Ukhuwah yang terbina semasa pendakian gunung ini menjadi MEMOAR dalam setiap ikhwah yang berpatisipasi dalam mendaki dan seterusnya menawan Gunung Langenda Sarawak ini....


Kumpulan Muhannad Thahir

Akhir kalam..... Ukhuwahfillah membina semangat dalam berdakwah...
Ikhlaskan dirimu ,

Dakwah dan Tarbiyah jalan kami...
Hidup mulia mati syahid...



Islamic Hijri Calendar

Salam Jom beri pendapat anda!!

Assalamualaikum..

Mari kita berkongsi pendapat dan bertukar fikiran..
Senang je just klik link ini....



Contohnya:

Pendapat saya, halaqah perlu dibanyakkan agar kita dapat mentarbiyah manusia menjadi Khairu Ummat..